KebebaSan HarAjuKu

March 15th, 2008 by kumauyangkumau

Harajuku_fashion_1
Buat kamu-kamu yang doyan ama manga (eit..bukan mangga lho ya..), anime, sushi, dan segala tetek bengek tentang negeri Sakura, kalo ga ngerti tentang harajuku, so pasti keki banget. Kenapa? Ya iyalah, soalnya kalo ngomong tentang negerinya Doraemon ini, pastinya ga akan lepas dari pola gaya model anime, khususon pada kaum muda-mudinya. Apa itu? Masa tetep aja ga ngerti..itu-tuh udah kepampang di judul kita.
Yup, jawabannya harajuku. Apa seh harajuku itu? Pasti kamu bakal bertanya-tanya. Selama ini pastinya kita nganggap kalo harajuku tuh gaya berbusana yang aneh, nyentrik dan serba ngejreng. Tapi sebenarnya Harajuku adalah sebutan populer untuk kawasan di sekitar Stasiun JR Harajuku, Distrik Shibuya, Tokyo. Kawasan ini terkenal sebagai tempat anak-anak muda berkumpul. Lokasinya mencakup sekitar Meiji Jingu, Taman Yoyogi, pusat perbelanjaan Jalan Takeshita (Takeshita-dori), departement store Laforet, dan Gimnasium Nasional Yoyogi. Harajuku bukan sebutan resmi untuk nama tempat, dan ga dicantumin di buku alamat (http://id.wikipedia.org).
Nah, kenapa seh, islamuda edisi ini ngebahas harajuku? Tentunya ini ga lepas ama fenomena yang ada di sekeliling kita semua. Konon gaya serba boleh di harajuku ini udah banyak diadopsi ama remaja kita, sebagai bagian dari usaha jual tampang dan ngobral sensasi. Bener sobat. Sepertinya dengan ndompleng gaya dan pola hidup orang lain, seakan-akan kita ga merasa puas dan ga cukup percaya diri ama bentuk wajah, tubuh serta pribadi kita saat ini. Jadi sobat, ga usah kaget kalo ada rekan kita yang tiba-tiba rambutnya dicat kuning seperti emas batangan, moga aja ga kayak emas di sungai. Hehehe. Dan juga jangan shock, bila ada rekan cewek yang ujug-ujug suka pakaian serba hitam, asesoris warna hitam, lipstik hitam, padahal orangnya juga hitam. Nah, yang kayak gini kudu bener-bener diterapin saftey riding, apalagi buat malam hari. Hehe, just kiding. Ya, itulah negeri kita, apapun yang dianggap baru dan ngetren, pasti langsung laku abis diganyang ama muda-mudi kita. Apalagi model harajuku yang muncul dari negeri berkelas seperti Jepang, pasti aja remaja kita doyan. Wong gaya punk yang awalnya berasal dari narapidana gay di Alcatraz aja diembat. Malu atuh mas…
Nah, ga butuh lama supaya tradisi berpenampilan ala harajuku ini nyebar di negeri kita. Apalagi ga perlu orang Jepang asli yang nyebarin, cukup anak-anak Indonesia sendiri yang rela capek banting setir, eh salah banting tulang buat ngurusi budaya ini. Sebut saja mall kelapa gading dengan lomba harajukunya tahun 2007 lalu, dan salah satu SMA di Bandung yang tanggal 8 hingga 9 Maret lalu ngadain kontes Harajuku di sekolah mereka. Hayoo.. SMA mana tuh? Mbok ya ngadain olimpiade sains gitu, atau kontes dakwah. Ortu kita kan nyekolahin anaknya buat nimba ilmu, bukan nimba cat rambut. Eleh-eleh, capek deh Kang. Apalagi sekarang, ortu kita semua pada antri minyak tanah, eit…nggelambyar deh omongannya. By the way sobat, itu tadi prolog kita sebelum kita ngupas habis tentang harajuku. Gimana seh seluk-beluk harajuku itu? Dan gimana pendapat Islam tentang harajuku? Yuk kita bedah satu persatu…

Harajuku, simbol kebebasan perilaku
Sobat, wilayah harajuku ga ngetren dengan sendirinya. Perlu sesuatu yang bisa ngenalkan ke khalayak ramai. Siapa lagi kalo bukan media. Konon Harajuku menjadi popular setelah diliput media cetak seperti majalah Anan dan non-no pada saat pembukaan departement store besar-besaran di tahun 1970-an. Busana nyentrik ini diawali oleh gaya pakaian di kedua majalah tersebut. Banyak anak-anak muda Jepang yang doyan jalan-jalan di harajuku, njiplak pola pakaian di majalah itu. Mereka ga ngerasa risih memakai pola baju yang aneh di harajuku, walau mereka sekedar cuci mata di berbagai butik-butik fashion. Bukan untuk jadi model sabun colek, atau sol sepatu. Nah, disini kita bisa narik satu benang merah, kalo peran media gede banget dalam nyebarin opini, apapun itu. Tentunya kita semua sudah tahu hal ini. Contohnya, kita ga akan kenal siapa itu Mbah Maridjan, kalo media ga menjadikannya cover boy eh salah cover grandfather, waktu gunung Merapi batuk-batuk sesaat. Demikian pula dengan harajuku. Gaya pakaian, pola riasan, aksesoris rambut dan pernak-perniknya, menjadi trendsetter ketika media mengobralnya dalam tajuk dan liputan di dalamnya. Bener kan…Ditambah keberadaan para selebritis domestik, yang hari gini sudah bergaya Jepun macam Agnes Monica, She, Garasi, MAIA, dan J-Rocks. Klop deh dijiplaknya.
Gaya harajuku ga hanya sekedar motong rambut ga beraturan dan mengenakan pelindung tubuh yang gokil abis. Tapi ternyata ada beberapa aliran cara berpakaiannya. Sebut saja gothic lolita yang kebanyakan dipakai oleh kaum remaji, dengan pola busana elegan, gothic, feminin dan menjadikan si pemakai seperti boneka bermotif Victoria. Selain itu, ada gaya Japanese punks, yang terinspirasi dari gerakan punk di awal 70-an. Cosplay, membuat diri dan pakaian kita semirip mungkin ama tokoh anime atau karakter game, seperti Naruto atau Bakabon. Untung aja sampe sekarang ga ada yang berpakaian Hamtaro. Hehe. Decora, dengan ciri khas warna-warna cerah, flamboyan dan nyentrik. Kawaii, yang artinya lucu atau imut. Tentunya pakaian yang dikenakan juga kudu lucu dan imut. Mungkin berbusana kostum Pokemon kali ya… hehe. Dan wamono, yang merupakan gabungan antara busana Jepang dengan barat. Ya gampangannya kimono ama celana jeans gitu. Nah, masalahnya kalo di negeri kita, mungkin jarik (kain kebaya) ama koteka kali ya…Hii ga cucok blas.
Nah, gimana gaya harajuku menurut remaja kita? Pontianak post dalam edisi online-nya, sempat mewancarai beberapa remaja yang lagi gandrung ama harajuku style. “Tapi kalau aku, model rambut klasik nggak begitu suka, soalnya berkesan tua dan memerlukan penataan khusus. Makanya, aku potong rambut ala remaja Jepang. Kata teman-teman sih, model kayak gini namanya Harajuku. Konsep potongannya, cenderung berantakan, berani, dan unik. Di Jepang, potongan rambut kayak gini emang lagi mewabah,” terang Yulia, seorang mahasiswi.
”Memang, banyak remaja sini yang masih agak jaim alias jaga imej. Kalau aku sih, tampil aneh bukan berarti jadi berkonotasi negatif, tapi bisa jadi unik dan punya ciri tersendiri. Yang penting lagi, aku bisa mengekspresikan gaya,” kata Kristine, karyawati swasta.
Sementara itu, salon-salon yang nawarin potong model Jepang mulai bermunculan di Pontianak. Potongan rambut Harajuku dan skin-head memang benar-benar nggambarin karakter remaja kebanyakan. Diprediksi, tren kayak ini akan semakin digandrungi tahun ini. ”Model asimetris, geometrik, spike, dan ditambah dengan warna-warna rambut yang lebih berani memang mulai banyak terlihat di Yogya sekarang. Jika tahun lalu warna rambut kecoklatan dan hitam yang banyak diminati, tahun ini warna yang tren adalah warna rambut ash, golden blonde, merah, ungu, abu-abu, hijau, dan warna-warna ekstrem lainnya,” jelas Budi, seorang stylis. Hhhh, whatever they said-lah. Memang seh, tiap orang punya hak untuk berbicara dan berpendapat sesuai kemauan mereka. Tapi ingat bro, alangkah bijaknya kalo kita ga sekedar berkomentar tentang segala sesuatu. Lebih lagi untuk suatu gaya hidup, yang belum tentu sesuai ama Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Tentunya kedua hal tadi yang kudu kita jadikan pedoman. Bukan yang lain. Apalagi menjadikan gaya hidup orang non-muslim sebagai kiblat mulai dari pribadi hingga penampilan dan busana. Jangan sampe deh.

Mahal dan ga Syar’i
Sobat, setelah kita udah ngerti sekilas tentang harajuku style. Kita berharap kamu bakal mikir beribu-ribu kali buat meniru gaya harajuku. Situs harajukja.com, yang merupakan situs penggemar harajuku di Indonesia sendiri menyebutkan, kalo gaya harajuku ga sesuai dengan model remaja di Indonesia, khususnya yang lagi duduk di bangku SMA. Hal ini karena pola pakaian dan gaya harajuku tergolong mahal. Perlu ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk make up, cat rambut, pierching hingga patern baju yang tergolong khusus. Buat yang berkantung tebal, hal ini pasti bukan masalah, hanya saja perlu dipertanyakan pada diri remaja sendiri, apa kita ga ridho ama pemberian Allah SWT dalam diri kita sendiri? Dan buat yang ekonominya pas-pasan, ga usah maksa nyari kain kiloan, atau cari asesoris di percho alias emper tocho (baca: toko), demi muasin hasrat hak kebebasan berbusana harajuku. Oke deh kalo kamu tetep bilang ini hak kamu. Tapi masalahnya, hak kan bisa kamu dapat hanya setelah njalanin kewajiban. Nah, gimana dengan kewajibanmu ama Allah SWT untuk matuhi segala aturan-Nya? Dan, gimana dengan kewajiban ama ortu, yang disitu kamu kudu berjuang untuk keluarga? Sudahkah kamu lakuin itu semua? Jangan bilang hak deh, kalo kewajiban aja belum kamu lakukan. Titik.
Ehem, lagipula buat yang cewek, Islam udah ngasih tuntunan yang jelas tentang bagaimana seorang muslimah berpakaian. Tentunya aturan ini bukan isapan telunjuk semata (bosan ah jempol terus). Nah kalo kamu baca Qur’an surah Al Ahzab ayat 59, udah jelas kepampang disana, kalo muslimah itu wajib berbusana jilbab. ”Wahai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dan di Qur’an surah An Nuur ayat 31, Allah SWT juga menjelaskan kewajiban berkerudung. ”Katakanlah kepada wanita yang beriman: ”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya….” Jadi ga penting banget kalo kamu memakai model cosplay, kawaii, ataupun gothic lolita. Berdosa dan ga syar’i lho mbak.
Dan buat yang cowok, sebelum ketularan ama gaya harajuku, sekaranglah saatnya kamu buka-buka lagi hadits Rasulullah SAW yang ngatur pola berpakaian seorang muslim. Sebagai contoh ya, Islam melarang cowok memotong sebagian rambut dan membiarkan sebagian yang lain (qoza), seperti gaya harajuku dan punk, dari Nafi’ dari Ibnu Umar Radhiyallahu ’anhu, beliau berkata. ”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang qoza.” Kemudian Nafi’ ditanya, ”Apa yang dimaksud dengan qoza ?.” Dia menjawab, ”Mencukur sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian yang lain.”
Selain itu Rasulullah SAW melarang laki-laki berpakaian menyerupai wanita dan sebaliknya. ”Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasalam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al-Bukhari). Dan terakhir Rasulullah melarang kita memakai pakaian hanya untuk popularitas semata, ”Barangsiapa mengenakan pakaian (untuk memperoleh) popularitas di dunia, niscaya Allah mengenakan kepadanya pakaian kehinaan pada hari Kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah dari Ibnu Umar).
Nah sobat, disini jelas sudah, pola berpakaian juga diatur dalam Islam. Ga sekedar nyontek gaya dan ndompleng popularitas, tanpa ngerti hukumnya. So, belajar Islam deh mulai sekarang, ga ada kata terlambat sebelum ajal meregang. Ok deh. (dy-www.islamuda.com)

Bookmark and Share

Nyontek - Ga KerEn BanGet

March 14th, 2008 by kumauyangkumau

Nyontek_1
Akhir-akhir ini para pelajar, terutama yang bermukim di kelas akhir sekolah lagi disibukkan dengan berbagai macam uji coba atau try out untuk persiapan di ajang UNAS. Ga peduli siswa cowok atau cewek, kita semua berjuang mati-matian (mati bo-ongan donk, iya kalo mati beneran ya dikubur). Menghadapi unas demi nilai tinggi dan memuaskan. Demikian pula dengan adek kelas kita, juga bakal berjuang sampai tetes darah penghabisan (ih, ikut donor darah dong), untuk meraih nilai agar tidak ngendon di kelasnya sekarang. Walhasil, mereka akan ngelakuin segala cara, supaya bisa mencapai GOAL tadi. Mulai dari les privat, ikut bimbingan belajar, nggenjot jam belajar, ampe nekat bikin catatan super duper imut sebagai “jimat” menjelang ujian. Eh, waktu ujian, keliru bawa struk belanjaan tadi malam. Capek deh. Bagi yang kurang persiapan, biasanya langsung ancang-ancang ngelobi target yang kira-kira capable untuk dimintai contekan. Istilahnya, posisi menentukan prestasi. Iih kalo yang terakhir ini mah nggak keren banget dech, palagi buat cewek
Sebenarnya yang dinamakan nyontek tuh yang kayak apa seh? Kasak-kusuk yang dapat dikategorikan menyontek diantaranya, nyalin jawaban teman atau ngintip dari buku catatan pas ujian (atau ngerpek). Or nyalin kalimat dari buku cetak tanpa nyebutin sumbernya saat ujian atau tugas. Gimana dengan ngasih contekan? Kamu ga boleh ngerasa aman lho, karena memberi contekan juga termasuk tindakan menyontek juga. Itu kan bikin contekan temen kita makin lancar jaya. Nah loh, ati-ati ya.
Gals, fenomena nyontek mungkin udah biasa seliweran di sekitar kita. Dan mungkin sebagian besar kita nganggap nyontek sebagai hal biasa. Padahal kalo kita perhatikan, nyontek tuh perbuatan curang yang memalukan. Selain bohong ama guru dan ortu, nyontek berarti membohongi diri sendiri. Aneh ya, padahal kita biasanya marah kalo dibohongi orang lain. Tapi kok mau dan rela dibohongi diri sendiri. Malah, ga sedikit yang bilang kalo nyontek itu sama dengan mencuri dan termasuk korupsi kecil-kecilan. Naudzubillah. Bayangin, cewek cantiq, caeum, dan kiut kayak kita (dikit narsis boleh donk… hehe) nyontek! Idih ga ada bedanya ama maling ayam yang bonyok digebukin massa dan digelendeng masuk bui.
Bayangin, ceweq cantiq, berwibawa, dan pinter kayak kita, nyontek! Identik ama pejabat koruptor yang makan duit rakyat, alias rela makan bangkai saudaranya sendiri. Iih… bakso dan soto masih enak, ngapain makan bangkai.
By the way, survey Litbang Media Group (19 April 2007) ngungkap kalo 70% responden di enam kota besar (Makasar, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta dan Medan) ngaku ketika sekolah atau kuliah, pernah ngelakuin kecurangan akademik yaitu nyontek. Duuh ga bayangin dech, bagaimana kalo mereka nantinya memimpin negara ini. Ga heran deh banyak koruptor.
Nah, hati-hati gals! Nyontek ini penyakit menular. Kalo tembok iman kita dibangun dengan cara yang salah, bisa aja kita ketularan nyontek. Dan kalo kamu beri contekan, sebenarnya kamu lebih bersalah dari yang nyontek. Lho kok bisa? Iya dong, karena selain kamu ngebantu melestarikan tindakan menyontek, juga nggandeng teman kamu untuk selalu nyontek. Kalo kita tilik lebih lanjut, salah satu penyebab semakin langgengnya fenomena nyontek ini adalah lemahnya sanksi nyontek. Kalo cuman ditegur atau dikurangi nilainya, mungkin ga bisa bikinsi yang nyontek jerah. Sedikit sekali guru atau dosen yang sampai ngebatalin kelulusan karena nyontek. Dengan alasan belas kasihan. Pantes aja, banyak teman-teman kita yang semakin membara semangatnya untuk menyontek, apalagi sanksinya ringan banget. Padahal gals, andaikan mereka tahu sanksi apa yang akan diterima di akhirat, wuih, bisa gosong nih badan.
Ehem, idola kita, Muhammad Rosulullah bersabda : ”Barangsiapa mencurangi kami maka bukan dari golongan kami” [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Iman no 101]. Nah loh, kalo bukan golongannya Nabi Muhammad, golongan apa donk? Dalam Islam cuman ada 2 golongan, kalo ga golongan Rosul (taat pada Allah), pastilah golongan syetan. Hiih…..cantiq-cantik gaulnya ama syetan.
Gals, kenapa sih banyak temen kita yang pada nyontek? Ternyata, selain pengen nilai tinggi, motivasi nyontek bisa akibat tekanan tinggi yang diberikan kepada siswa. Tekanan nilai dan prestasi tentunya. Guru akan ngasih nilai raport berdasarkan hasil itung-itungan dari semua ujian yang dilakukan. Raport lalu bakal dilaporkan kepada orang tua siswa. Kalo nilainya jelek, tentu orang tua akan memperketat pengawasan belajar si anak. Bahkan, mungkin sampai ngebatasi waktu mainnya untuk belajar. Ga sedikit orang tua dan guru yang menilai baik-buruknya anak berdasarkan nilai akademik. Padahal seharusnya lebih ditekankan pada proses. Semaksimal apa usaha anak tadi dalam belajar? Karena disadari atau tidak, nilai adalah salah satu rizki Allah. Alasan nyontek yang lain adalah karena belum belajar saat ujian. Ini sudah hal yang umum, biasanya kita belajar semalam sebelum ujian. Wayangan. Padahal cara instan ini ga bakal efektif. Selain bikin kita capek, apa yang kita udah pelajari semalaman juga akan hilang secara instan. Alasan yang lain biasanya adalah karena sulitnya soal. Ini seakan maksa temen-temen kita untuk nyontek. Seperti kata Bang Napi, nyontek, yang sama halnya dengan mencuri dan korupsi, bisa dilakukan jika ada peluang dan kesempatan, maka WASPADALAH! WASPADALAH!
Nah, biar ”percontekan” ini ga semakin menjamur, sangat dibutuhkan kerjasama berbagai pihak. Karena kalo cuman kita aja yang jaga diri dan berusaha ngingatkan teman agar ga nyontek, tentu kurang efektif. Apalagi kita sendiri doyan nyontek. Bisa berabe tuh.
Pihak pengajar juga punya peranan yang besar, diantaranya ada yang membocorkan soal ujian, dan ada yang sedikit malas menjalankan sanksi. Padahal kalo hal ini terjadi sebaliknya, proses menyontek akan minim terjadi. Terakhir, sistem pendidikan juga kudu diperbaiki, jangan hanya melihat segalanya dari nilai nilai hitam di atas putih. Tapi lebih menekankan proses yang dilalui oleh nilai kejujuran. Nilai memang penting, tapi yang jauh lebih penting adalah gimana nyiapin mental mandiri dan jujur para siswa. Merekalah nanti yang akan nentukan nasibnya dan nasib bangsa ini.
Ok gals, dah paham kan? Kalo kamu ga mau dicap golongannya syetan, apalagi ga dianggep golongannya Nabi Muhammad (duuh..kachian…), jangan sekali-kali dech nyontek. Coz, ”lirikan mata” dan ”tangan terampil” kita nanti yang akan ngaku di hadapan Allah SWT. So, jangan nodai kecantikanmu dengan bergaul dengan para syetan. Gambatte ne! (Zk).

Bookmark and Share

mEngajAr kElas SosiAL

March 13th, 2008 by kumauyangkumau

Sudah satu semester lebih kujalani profesi guru di sebuah SMA negeri favorit di Surabaya. Memang, pekerjaan apapun pasti ada sedih dan senangnya. Tinggal kitanya aja yang memanage perasaan dan mood, agar bisa semakin memotivasi diri kita dalam menjalankan tugas. Di sekolah ini saya mengajar baik kelas 1, 2 dan 3 bersama dua guru yang lain.
Guru_marah

Sekolah ini mengambil kebijakan bahasa Jepang diajarkan di semua tingkat kelas, kecuali kelas 3 di semester dua karena lebih ditekankan pada persiapan UNAS dan SPMB. Karena kelas 2 dan 3 sudah ada penjurusan, maka tentu ada kelas IPA dan IPS. Kebanyakan guru merasa enggan mengajar di kelas IPS, karena ada asumsi bahwa kelas IPS adalah kelas buangan (karena gagal masuk IPA), dan memang di sekolah ini, hal tersebut adalah sebuah kenyataan meski ada beberapa siswa yang memang sejak awal punya niat masuk IPS dan serius masuk IPS. Banyak juga guru yang berkomentar, kalo mengajar di IPS pengelolahan kelasnya lebih lama daripada proses mengajarnya. Dan ternyata kenyataan ini saya hadapi saat ini. Dari nilai akademiknya saja, sudah dapat diterka. Ketimpangan nilai rata-rata kelas IPA dan IPS untuk mata pelajaran bahasa Jepang lumayan besar, yaitu mencapai 20 poin. Padahal saya berusaha mengajar dengan porsi yang sama. Memang saya sering mengalami kesulitan dalam mengelola kelas IPS, seperti yang dieluhkan guru lain. Salah satu contohnya metode game yang saya pakai di kelas selain IPS, bisa berjalan lancar. Namun jadi berantakan ketika saya coba terapkan di kelas IPS. Ketika menjelaskan sesuatu, seringkali saya harus menggedorkan penghapus ke papan atau ke meja, agar siswa tenang dan memberikan atention-nya. Memang mereka akan tenang sesaat, ketika beberapa menit saya menerangkan, keramaian kelas dimulai lagi. Ehm… capek memang.

Menghadapi berbagai komentar guru dan komentar banyak orang di sekitar saya tentang kelas IPS, sempat membuat saya kecut dan ikutan timbul perasaan enggan dan malas memasuki kelas IPS. Selama satu semester lebih saya merasa ada sedikit tekanan ketika melangkahkan kaki ke kelas IPS. Padahal saya berusaha mengeluarkan capabilitas yang saya punyai (meski ga bagus-bagus amat), untuk membuat anak-anak di kelas sosial ini mendengarkan penjelasan gurunya dan konsentrasi dari awal hingga akhir pelajaran. Namun ternyata kemampuan saya belum sampai ke sana, saya masih butuh banyak belajar.

Akhirnya di tengah penat memikirkan kelas sosial, mulai 3 minggu lalu saya memilah anak-anak yang mau serius belajar. Mereka saya suruh menempati bangku di depan, dan yang tidak atau kurang niat belajar saya suruh duduk di belakang. Hanya sekitar 10 orang dari 38 siswa yang duduk di depan. Walhasil, saya hanya mengajar 10 siswa saja. Sama sekali tak saya hiraukan para siswa yang duduk di belakang, sampai jam saya habis. Minggu berikutnya saya tidak mengajar karena sakit. Lalu kemarin ketika saya memasuki kelas ini, kembali saya coba terapkan metode di atas, dan kali ini kebalikannya. Hanya sekitar 10 siswa yang duduk di bangku belakang, selain mereka menyatakan dirinya berniat belajar. Meski masih agak sedikit ramai, ternyata kelas berjalan jauh lebih baik dari sebelumnya. Ada perasaan senang dan mengguyur hati saya ketika itu.

Saya cuma berharap semoga suasana kelas sosial seperti ini akan bertahan lama, dan semakin lebih baik. Anggapan bahwa kelas IPS adalah kelas buangan harus dibuang jauh-jauh, baik dari benak guru, siswa dan orang tua. Toh tidak berdosa siswa yang masuk IPS. Kelas IPS juga kelas yang bagus, sama bagusnya dengan IPA karena sama-sama punya prospek ke depan. Buktinya, banyak lulusan IPA yang ketika kuliah memilih jurusan IPS. Malah yang jebolan IPA atau teknik ketika kuliah pun, banyak yang akhirnya kerja di bidang sosial, semisal kerja di bank atau bagian managemen. Dan memang kalo kita tilik lebih lanjut, prospek kerja untuk sosial memang jauh lebih besar dari bidang sience atau teknik. Kalo ga percaya, bisa kita search lowongan pekerjaan, banyak yang menawarkan pekerjaan di bidang sosial. Semoga saja, saya terus bisa memompa semangat dan motivasi, di mana pun kelasnya, baik IPA maupun IPS. (Zk).

Bookmark and Share

Ternyata Berbeda……

March 10th, 2008 by kumauyangkumau

Sampah

Beberapa hari ini, aku menjadi tertarik dengan sistem pembuangan sampah di Jepang. Entah mengapa mungkin karena penat melihat tumpukan sampah dan bau busuk di sekitar Surabaya. Satu bulan lalu, saya bersama suami menginap di rumah mertua di dekat kawasan Kenjeran. Tiba-tiba jam 6 pagi saya ingin keliling Kenjeran naik sepeda motor. Ada sekitar 4 desa yang kami lewati, selama perjalanan saya senantiasa tak nyaman bernafas. Sampah-sampah yang menumpuk dan seakan telah membatu itu menyebarkan bau yang amat tak sedap. Got-gotnya dipenuhi sampah dan air yang berwarna pekat. Malah ada yang belum dibangun got untuk aliran air. Belum lagi di pesisir pantai Kenjerannya. Lalu saya minta diantar ke area proyek Suramadu, di situ pun tak kalah parahnya. Pompa airnya tersumbat penuh sampah, dan airnya berwarna gelap sekali (lebih gelap dibanding got-got kecil di beberapa desa tadi).
Memang sampah menjadi masalah pelik di berbagai kota di Indonesia termasuk Surabaya. Kalo ditilik sekilas aja, masalah sampah di Surabaya memang sangat komplek. Mulai dari cara membuang sampah yang tidak benar, alat angkut sampah yang tidak cukup memadai, kurangnya lahan pembuangan sampah, sampai-sampai harus mengorbanban wilayah pinggiran semisal Benowo, yang kini menjadi sanitary landfill yang udah mencapai hingga 2 lapis. Sampai saat ini pengolahan sampah yang sedikit bisa ditiru adalah di kawasan Karah, Jambangan. Dia mempunyai program recycle yang didukung oleh pihak swasta (unilever), namun sayangnya program ini belum menyebar luas karena dukungan dari pihak pemkot kurang.
Saya ga habis pikir lahan pembuangan sampah untuk menampung sampah orang-orang se-Surabaya yang sekarang di Benowo, yang punya luas sekitar 33,3 ha, sudah dipakai hampir 26 ha. Kalo sudah 100% dipakai, lalu akan dibuang kemana sampah orang-orang se-Surabaya beberapa tahun lagi?
Ketika saya kangen dengan Nagoya, saya browshing official web nagoya city.  Saya coba cari, dikemanakan sampah-sampah seluruh orang Nagoya. Saya coba cari dimana TPS dan TPA di Nagoya, yang memang belum pernah saya temui selama tinggal di Nagoya. Ternyata saya nggak menemukannya. Yang saya temukan adalah sistem pembuangan sampah dan program recycle. Di sana, masyarakat sudah mendapatkan edukasi untuk memilah sampah sebelum membuangnya. Mereka juga tak sembarangan membuang sampah, mereka mengelompokkannya terlebih dahulu, dan membersihkan dulu sampah yang hendak dibuang. Kapan mereka membuang sampah apa - pun ada jadwalnya. Karena saya dulu tinggal di asrama, saya tak begitu hafal dengan jadwal pembuangan sampah ini. Jadwal tiap kawasan (distrik) memang berbeda, misalnya ada distrik yang pembuangan sampah bisa bakar hari senin dan sampah plastiknya selasa. Sampah-sampah tadi diangkut ke tempat yang telah ditentukan, dan nanti akan ada perusahaan pengolahan sampah yang mengambilnya. Jangan bayangkan tempatnya seperti TPS di Surabaya. Karena orang-orang membuang sampahnya sudah dalam keadaan rapi. misalnya susu kemasan kardus, sebelum kardus dibuang harus dicuci dan dikeringkan dulu, lalu digunting sedemikian rupa hingga mudah dilipat, dan setiap 10 kardus diikat dengan tali rafia. Begitu pula dengan sampah plastik atau kaleng, harus bersih dari sisa makanan.
Sedangkan untuk sampah elektro (misal TV, AC, Kulkas dll), biasanya akan dikembalikan ke toko tempat dulu membeli (ada semacam tiket/brosur) agar bisa membuang sampah dengan gratis, lalu oleh pihak toko akan disetor ke perusahaan industri untuk diproses menjadi produk yang baru.
Di official web nagoya city berkali-kali ada catatan bahwa pengolahan sampah ini tidak diurusi langsung oleh pemkot, namun oleh perusahaan pengolahan sampah.
Kalo di Indonesia ada 2 pengklasifikasian sampah yaitu sampah kering dan basah (inipun tidak dijalankan), di Jepang (Nagoya) ada banyak sekali pengklasifikasian sampah. Dua bulan awal tinggal di Nagoya membuat saya bingung ketika membuang sampah. Ada sampah alami (sisa makanan, kertas yang sudah tak bisa didaur ulang dll), sampah plastik, sampah daur ulang, sampah botol plastik, sampah kaleng kosong, sampah botol kaca, sampah elektro, sampah berbahaya (obat, kosmetik dll) sampai ada sampah tak terkategori dan lain-lain. Seingat saya, di asrama saya ada sekitar 9 tong sampah yang disediakan. Jadi ketika sampah-sampah tadi dibuang, tidak diperlukan lagi pemulung untuk memilah sampah.
Sistem ini pernah dipolingkan di Indonesia, dengan pertanyaan utama apakah masyarakat mau/bersedia melakukan pengklasifikasian sampah? dan rata-rata audience menyatakan bersedia kali tidak rumit sekali sebanyak hampir 50%, hanya sekitar 10% yang menyatakan tidak bersedia, itu pun karena beralasan jika sangat rumit. Kalo menurutku, asal pihak terkait seperti pemkot dan media bisa memberikan edukasi tentang pengolahan/pengklasifikasian sampah dengan serius, program yang sedang dilakukan di Jepang sangat mungkin untuk diterapkan di Indonesia. Emang sistem edukasi di negeri ini punya andil peran yang cukup besar dalam berbagai hal, ga cuma sampah. Ehm….. semoga saja Indonesia akan segera membaik.

Bookmark and Share

Anugerah terindah

November 2nd, 2007 by kumauyangkumau

Sekian lamanya aku tervakum dari dunia maya. Disamping agak susah ngenet, Juga karena bawaan sosok lain yang kini sedang bersemayam dalam kandunganku. Sosok lain itu kusebut “dedek”. Dedek seringkali meminta perhatian lebih dan super, sehingga aga membatasi gerakku. Capek, lelah, sakit, penat acapkali kurasakan, meski akhir-akhir ini mulai berkurang. Mungkin karena mendekati bulan ketiga. Namun semua lelah, capek, penat dan sakit itu perlahan hilang, jika mulai kubelai dia, jika kuajak dia berkomunikasi meski hanya dalam hati. Aku yakin, dia pasti bisa merasakan sentuhanku. Dedek, yang kuharapkan nantinya mengisi hari-hariku di biduk kami, yang merupakan buah dari cinta kami. Umi sangat berharap kamu nanti bisa memberi bobot di dunia ini, khususnya bagi perjuangan menegakkan Din-Nya. Ya Allah…. terima kasih, atas karunia-Mu yang terindah ini. Semoga aku bisa menjaga amanah besar-Mu kali ini, dan mengantarkannya menjadi mujahid-Mu. Amin.

Bookmark and Share

17-an dan pernak-perniknya

August 20th, 2007 by kumauyangkumau

Hari Jumat yang lalu, di 2 tempat kerjaku ada ceremony untuk memperingati independence day.

Di PT Smelting, setelah upacara selesai, panggung dangdut dengan bintang Nini Karlina pun dihelat meriah. Seluruh karyawan bisa mengajak seluruh keluarganya buat rame-rame ngeliat Nini, juga ada beberapa lomba dan door prize, ga tanggung-tanggung door prize tertinggi adalah lemari es, ada juga televise. Wah…wah… Saking menariknya, salah satu koran,-Jawa Pos-, memuat acara ini, meski Cuma foto kecil ketika salah satu ekspatriat menari dangdut dengan Nini Karlina.

Di SMA N 2 Surabaya, upacara bendera dilaksanakan dengan khitmad. Semua guru rapi memakai baju batik KORPRI dan ada juga yang berbaju dinas abu-abu. Sedangkan seluruh siswa memakai baju putih abu-abu layaknya upacara tiap hari Senin.

Karena tidak mungkin berada di 2 tempat sekaligus, aku memilih dating di SMAN 2 Surabaya, karena menurut pertimbanganku aku lebih save di sana, daripada di PT. Smelting. Namun belum selesai acara 17-an di SMAN 2 Surabaya, beberapa menit setelah upacara, aku meninggalkan sekolah yang konon menelurkan banyak orang suskses dan petinggi, karena suamiku menjemputku. Aku bersama suami pergi ke sebuah Lembaga Pendidikan Islam Lukman Al-Hakim di daerah Keputih, dekat ITS Surabaya. Di sini aku mengunjungi SMP Putri, mereka sedang melakukan beberapa lomba yaitu jalan berdua dengan kaki diikat dan menghias tumpeng.

Suamiku dulu pernah mengajar di salah satu kelas yang ikut lomba menghias tumpeng. Bahkan kelas ini memberi kenang-kenangan di hari pernikahan kami. Kontan aja, ketika aku tiba di tempat, mereka berteriak “BUNDA….!!!”, hehe…..itulah kelas 9C, atau istilah keren mereka adalah Nancy (baca:nensi = nine C). Ada kelas yang memberikan judul tumpengnya sebagai berikut : Tumpeng ondel-ondel (dengan leader Puput imut yang penuh semangat, tahan olokan, meski tumpeng mereka tidak berbentuk kerucut), Tumpeng Hujan Telor (banyak telor dadar bertaburan di undak-undakan tumpeng), Party Spektakuler Tumpeng (ada merak gedhe dan bebek yang ikut nimbrung di tumpeng) dan tumpeng melik Nancy diberi tema “Taman Tumpeng” karena banyak hiasan bunga yang mereka buat dari wortel.

Dan masih banyak lagi agenda yang dibuat oleh seluruh masyarakat Indonesia untuk menyambut independence day yang ke-62 ini, entah di lingkungan kantoran (kerja), sekolah, juga tingkat nasional, propinsi, kotamadya, kelurahan, RW dan RT. Bahkan di dekat apartemen Somerset diadakan perayaan 3 hari 3 malam. Malam pertama diadakan pembacaan Al-Quran dan sejenis sholawatan, malam kedua digelar panggung dengan lagu-lagu POP dan ditutup dengan malam terakhir (tadi malam/Minggu malam Senin) dengan panggung DANGDUT, yang rata-rata selesai jam 12 malam. Beberapa penghuni Somerset baik apartemen dan hotelnya mengaku agak terganggu sedikit dengan acara ini. Hehe….

Bisa bayangin ga, acara akbar (karena dilaksanakan pada hari yang sama di seluruh wilayah Indonesia dan di negara lain yang ada komunitas orang Indonesianya) 17-an ini memerlukan dana berapa, lalu tenaga, bukan hanya pas Hari-H tapi beberapa hari sebelumnya biasanya juga ada lomba-lomba yang pembagian hadiahnya biasanya dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus. Apalagi kalau kita lihat upacara 17-an di Istana Negara. Betapa mewahnya baju dan kebaya yang dikenakan oleh para pejabat kita, yang notabene mereka seharusnya adalah pelayan umat.

Weleh-weleh….aku jadi punya keinginan untuk menghitung berapa duit yang dikeluarkan negeri ini hanya untuk memperingati acara 17-an. Waduuuh…berhubung kemampuan aljabarku tidak seberapa bagus, aku hanya bisa bilang buuaaanyaaak dech. Menurutku, uang segitu bisa lho digunakan untuk membantu korban Lapindo dan korban bencana lain semisal kebakaran di Pasar Turi, atau gempa di Indramayu tidak lama ini. Sedangkan untuk menghormati jasa para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan, bisa dengan memanjatkan doa agar amalan mereka diterima dan dosa-dosanya diampuni. Menurutku ini lebih berguna buat mereka yang telah meninggal, karena amal mereka telah terputus ketika mereka meninggal. Daripada kita buat acara lomba balap karung, sepak bola ibu-ibu, joget bapak-bapak atau sepakbola bapak-bapak pake rok, atau lomba kempit balon cowok-cewek dan masih banyak lagi lomba yang kalau kita pikir-pikir ga ada kaitannya dengan semangat pejuang para pahlawan, malah terkesan menertawai perjuangan mereka dengan lomba-lomba yang ga nggenah, yang di dalamnya banyak sekali penyelewengan hokum syariah. Yang paling menonjol adalah campur-baurnya cowok dan cewek (ikhtilat) dan kesia-siaan.

Setelah melampaui agenda-agenda di atas, apa yang kita peroleh? Cuma sekedar kesenangan dan kepuasan? Cuma sekedar memburu hadiah dan door prize? Atau untuk membangkitkan semangat nasionalisme? Waduuh, yang terakhir ini yang paling gaswat dan bertentangan dengan Islam. Lho kok…??

Iya donk, nasionalisme, patriotisme atau cinta tanah air ini kan salah satu produk Barat sekaligus salah satu metode kaum kafir dalam mensukseskan program besar mereka dalam memecah belah kaum muslimin di seluruh dunia, sehingga sekarang terpisah-pisah menjadi negara kecil-kecil, yang saling cuek dengan keadaan saudara muslim di negara lain, karena sekat NASIONALISME.

Adapun hadist yang sering dipakai oleh para pengemban nasionalisme adalah “Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”. Setiap pengutiban hadist ini, tidak pernah dicantumkan siapa periwayatnya, hanya disebutkan [AL-Hadits] saja. Dan dalam salah satu buku dari kalangan Salafi, secara jelas disebutkan bahwa ini adalah hadits palsu. Jelas banget, lha wong para sahabat dan khulafaur Rosyidin serta khalifah-khalifah sesudahnya justru meleburkan cinta tanah air dan golongan, dan menyatu dalam naungan negara daulah khilafah. Mereka betul-betul merasakan bahwa kaum muslimin di dunia ini adalah saudaranya, karena disatukan dengan sebuah ikatan aqidah yang sama yaitu aqidah Islam. Bukan seperti sekarang yang ikatannya nasionalisme, yang cuma sementara, dan terbatas oleh waktu, dan yang pasti bertentangan dengan Islam.

Duuh….segini dulu ah….kok cape….neh mau ada meeting,….. Pokoe, terus berjuang demi Islam!!!

Bookmark and Share

Strawberry Menawan

August 16th, 2007 by kumauyangkumau

Strawberry Hari ini, 30 menit setelah aku tiba di kantor, kubuka notebook dan membuka Outlook Express untuk mengecek adakah email buatku. Ternyata ga ada satu pun email yang masuk. Menjelang hari-hari keluar dari perusahaan ini, aku disibukkan dengan perapian beberapa data dan dokumen. Tiba-tiba saja, salah satu pegawai yang biasa duduk di belakangku menghampiriku. Bapak yang tirus (tinggi kurus) ini menawarkan padaku buah strawberry yang katanya dia bawa langsung dari Bandung. Tumben-tumbenan bapak yang kental banget logat Sunda-nya ini menawariku makanan. Tapi, yang namanya rejeki mah kagak boleh ditolak atuh… hehe…

Strawberry, buah unik berwarna merah menawan, bentuknya seperti bentuk hati. Akhirnya aku terima tawarannya, kuambil 2 buah dan kumakan. Buah strawberry di Indonesia termasuk dalam kelas buah mahal, untuk perkilonya saja kita kudu ngerogoh kocek sebanyak 50 ribu rupiah. Sewaktu dulu di Jepang, harga untuk sekitar 6 buah (ukuran besar) adalah sekitar 450 yen (36 ribu, kurs Rp 80/1 yen). Tapi dibandingkan dengan pendapatan rata-rata orang Jepang, harga ini bisa dijangkau oleh hampir semua kalangan. Dengan kata lain, di Jepang, buah ini bukan termasuk kelas buah mahal.

Buah strawberry mempunyai banyak sekali khasiat, dan kebetulan saya adalah penggemar strawberry, meski jarang memakannya, karena harganya yang relatif mahal. Buah ini berasa manis-asam, tapi rendah kalorinya bahkan mampu menyusutkan kadar kolesterol. Bisa juga dibawa sebagai oleh-oleh saudara atau rekan kita yang menderita stroke, karena dia bisa meredam gejala stroke. Sedangkan tujuh zat antioksidan yang dikandungnya relative tinggi sehingga bisa mencegah proses oksidasi (hancurnya jaringan tubuh oleh radikal bebas, proses penuaan) pada tubuh.

Kalau saya pribadi, sering memanfaatkan vitamin C yang dikandungnya dan khasiatnya yang bisa memutihkan dan membersihkan permukaan gigi. Buah strawberry saya hancurkan lalu ditempelkan pada gigi. Setelah dibiarkan sekitar tiga menitan, lalu digosok dengan sikat gigi seperti biasa.

Sayang sekali memang, buah ini hanya bisa dibudidayakan di daerah pegunungan. Kalau di daratan, bisa jadi sulit. Kalaupun bisa sampai berbuah, hasilnya tidak memuaskan. Sepengetahuan saya, di daerah Batu-Jatim, ada kebun strawberry yang jadi objek wisata, dimana kita bisa makan sepuasnya dengan hanya sekali bayar. Lalu budidaya yang lumayan besar ada di daerah Kendal-Jateng. Menurut beberapa petani, budidaya strawberry tidak terlampau sulit, hanya dibutuhkan ketelatenan dan keuletan saja. Buah yang memiliki biji sekitar 200-an setiap buahnya ini bisa dipanen 2,5 bulan semenjak ditanam. Wow….waktu yang lumayan pendek kan… jadi pengen bertanam strawberry neh… hehe…. Karena pohonnya yang kecil, maka setiap kali berbunga, biasanya hanya disisakan 18 bunga, sedangkan yang lainnya dibuang. Mungkin, kalau terlalu banyak buah, si pohon keberatan dan bisa jadi nutrisinya ga cukup dibagi, yang menyebabkan rasa dan ukurannya tidak memuaskan.

Buah strawberry memang bukan buah asli Indonesia, jenisnya ada banyak sekali. Yang paling sering dijumpai adalah Fragaria vesca L., jenis strawberry inilah yang pertama kali masuk ke Indonesia.

Strawberry yang punya bentuk dan warna yang menawan karena kaya pigmen, seringkali menyita perhatian banyak orang. Dia sering digunakan sebagai hiasan pada kue tart, atau diolah dan dikombinasikan dengan bahan lain menjadi susu strawberry, selai strawberry, coklat strawberry dan lain-lain. Rasanya memang menjadi bervariasi, namun yang perlu kita ketahui adalah khasiatnya akan berkurang setelah diolah. Akan lebih bermanfaat bagi tubuh kita, jika dimakan dalam keadaan masih segar. Oh ya, karena buah ini rentan rusak/busuk, maka kita harus hati-hati dalam menyimpannya. Biasanya kesegarannya bertahan selama 4 hari jika dimasukkan dalam lemari es, dan bisa sebulan jika dimasukkan ke dalam freezer (setelah dibekukan, taruh di dalam plastic dan beri air, simpan di freezer).

Waah…jadi ngiler strawberry neh….. Buah yang konon disebut-sebut sebagai buah cinta ini, bisa juga kita hadiahkan untuk suami tercinta kita yang pulang dari kerja, kepada anak-anak kita sehingga pertumbuhannya bisa terbantu, atau kita hadiahkan kepada diri kita sendiri untuk meningkatkan kesehatan tubuh kita. So, buah ini bisa menjadi media penyalur cinta kasih dan sayang kita, chiee…ile….J

Bookmark and Share

MERDEKA !!!

August 15th, 2007 by kumauyangkumau

Beberapa menit yang lalu, saya membaca blog seorang teman yang pernah saya kenal sewaktu saya belajar di Nagoya University. Entah kenapa, aku selalu terkagum-kagum kalau mendengar dan melihat mbak ini bicara, yang selalu menggebu-gebu. Sepertinya dia cerdas banget….(lha jelas, sekarang aja lagi ambil Phd di Universitas yang masuk TOP TEN di Jepang). Membaca banyak tulisannya, membuatku ingin menulis di sini.

Dalam tulisannya, disebutkan bahwa tanggal 14 Juli yang lalu, Perancis bergembira merayakan pembebasan penjara Bastille pada tahun 1789 yang lalu, yang sekaligus menjadi simbol revolusi Perancis, simbol kemerdekaan. Singkatnya, mbak ini mengkaitkan hal ini dengan diputuskannya bahasa Indonesia (kembangan bahasa Melayu) yang juga merupakan simbol kemerdekaan bagi Indonesia, coz bukan bahasa Belanda atau bahasa Jepang yang dipakai sebagai bahasa pemersatu Indonesia. Hal ini mungkin dikarenakan pertimbangan para pejuang dulu, jika memakai bahasa Belanda maka kita akan merasa dijajah terus, jika memakai bahasa Jepang, jangankan ngomong, nulis huruf kanjinya yang RENGKON (ireng-ireng lurus bengkong) aja udah bikin ruwet jaringan saraf otak kita. So, diambil bahasa yang mudah seperti bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.

Merdeka_2 Wah…. Jadi inget, besok adalah tanggal 17 Agustus, yang sudah pasti semua warga negara Indonesia tahu hari apakah gerangan. Yup! Hari kemerdekaan Indonesia (Indonesia no dokuritsu kinenbi). Semua kalangan menyambut rame hari ini, mulai dari pernak-pernik di jalanan berupa umbul-umbul, bendera, kerlap-kerlip lampu hias, spanduk ucapan selamat merayakan HUT RI yang ke-62 sampai-sampai ketika saya masuk ke sebuah toko, lagu-lagu kebangsaan terus diperdengarkan mulai dari lagu hari kemerdekaan, satu nusa satu bangsa, sorak-sorak bergembira de-el-el (sampai-sampai ketika saya berjalan memilih-milih barang belanjaan, jalan saya dah kayak jalannya para tentara, hehe….J).

Kadang, aku jadi termenung dan berpikir, sebegitu semangatnya mereka merayakan kemerdekaan, yang menurutku kondisinya ga jauh beda dengan masa penjajahan, cuma bedanya sekarang bisa pake komputer, banyak mall-mall dan gedung pencakar langit dll, malahan sekarang lebih parah karena rakyat Indonesia dijajah oleh bangsanya sendiri. Nah lho! Mulai dari para pejabat “boneka” didikan Barat yang nekat, sampai makan duit rakyat dengan kebijakan-kebijakan bejat. Jadi inget penangkapan Kepala BPN Surabaya yang tertangkap 2 hari yang lalu di sebuah kamar di Hotel Somerset, tempat aku biasa menunggu bos-ku ketika akan berangkat ke perusahaan. Duh, tega-teganya mereka memasukkan uang ke kantong pribadi dan melupakan rakyat miskin, yang untuk beli nasi aja ga mampu. Betapa kenikmatan dunia yang cuma 1% dari 100% kenikmatan yang diciptakan Allah, telah membuat mereka buta.

Kalau kita telaah lagi, yang namanya merdeka haruslah merupakan kondisi dimana orang merasa nyaman tanpa terhimpit beban, makan enak, sekolah enak, pengobatan enak, dan lain-lain yang kesemuanya dijamin oleh sebuah instansi (negara). Palagi, kalau kita lihat bumi Indonesia yang kaya akan sumber daya alam (darat, air, bawah tanah dll), harusnya semuanya bisa diolah dan digunakan untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya. Negara pun mempunyai kemerdekaan dalam mengambil keputusan atau kebijakan-kebijakan tanpa perlu takut ancaman atau intimidasi negara lain, demi kesejahteraan rakyatnya. Tapi ternyata, para pejabat kita lebih patuh kepada “Majikan Barat”nya, dan mengesampingkan kepentingan rakyatnya. Duuh…minta diapain ya, pemimpin-pemimpin kayak gini??

Perlu dikritisi lagi dech, apakah sudah layak kita merasa merdeka? Di lain pihak, bangsa luar terutama Barat dengan Amerika sebagai biangnya, masih menjajah kita. Memang sich, bukan lagi penjajahan fisik yang kasat mata, tapi penjajahan peradaban terselubung dan tersistematis yang malah jauh lebih berbahaya, karena penjajahan itu didistribusikan secara sadar ato ga sadar oleh para “agen” yang duduk di bangku-bangku kekuasaan di negeri ini, melalui pesanan kebijakan politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, militer dan lain-lain. Tentu aja, nantinya juga berdampak pada penjajahan fisik, PLUS penjajahan moral, mental, de-el-el, pokoe hampir di seluruh aspek kehidupan rakyat Indonesia.

Harusnya neh, kita gunakan semangat kita bukan untuk lomba-lomba macam makan kerupuk, balap karung, kempit balon dan lain-lain yang pastinya makan banyak waktu, uang dan tenaga sia-sia. Kudunya semuanya itu kita gunakan untuk berjuang MEMERDEKAKAN diri dan bangsa kita dari penjajahan model baru yang ternyata jauh lebih berbahaya dari penjajahan Belanda zaman dulu.

Adapun Islam, ternyata eh ternyata…. Udah nyiapin solusi jitu untuk masalah ini. (Pantas aja, lha wong solusi itu datangnya dari ZAT yang bikin manusia itu sendiri kok!). Dalam Islam semua aspek kehidupan manusia sudah ada aturannya, misalnya aturan dalam politik, ekonomi, militer, pendidikan, kesehatan dan lain-lain, bahkan ampe masalah kecil yaitu aktifitas di kamar mandi juga ada aturannya. Kalau Islam diterapkan secara kaffah (keseluruhan/total), dijamin dech, yang namanya KEMERDEKAAN, KESEJAHTERAAN, KEMAKMURAN dan sejenisnya pasti terwujud. Mau bukti?? Silakan aja lihat sejarah, bagaimana negara kecil yang dirintis oleh Rasulullah di Madinah meluas sampai 3/4 wilayah dunia, dan ga hanya itu, semua rakyatnya baik muslim dan non muslim bisa hidup berdampingan dengan kondisi yang sejahterah. Gimana engga’, lha wong sekolah, rumah sakit aja gratis-tis kok! Ya itu yang disebut Islam sebagai rahmatan lil alamin (rahmat seluruh alam).

So, ngapain susah-susah nyari solusi untuk merdeka? Karena Islam dah kasih solusi tock-cer untuk merdeka. SALAM MERDEKA!! Allahu Akbar!!.

Bookmark and Share

2 yang berBEDA

August 8th, 2007 by kumauyangkumau

Menyatukan 2 pribadi yang berbeda memang gampang-gampang susah. Hari demi hari kuhitung, sudah 2 minggu aku mengisi hidupku dengan seseorang yang sama sekali berbeda dengan diriku. Seseorang yang dulu berada di luar diriku. Seseorang yang dulu tak kuketahui sejatinya. Kini dia mengisi detik-detik waktu hidupku, tentu semuanya tidak senantiasa berjalan mulus seperti yang dibayangkan. Ada kalanya beda, ego dan perasaan bermain, sehingga hati kami bergesekan. Namun dari situlah muncul keselarasan yang nantinya akan semakin menambah cinta dan sayang. Kalau orang Jawa bilang, rumah tangga tanpa “pertengkaran” bagaikan sayur kurang garam. Memang peribahasa ini ada benarnya, meski “pertengkaran” tak harus diartikan pertikaian hebat.

Aku teringat dengan cuplikan artikel yang dikirimkan oleh calon suamiku (saat itu), tentang bertengkar yang Islami. Ternyata asyik juga lho, bertengkar tapi ada rambu-rambu yang Islami. Hehe….. Yang paling nempel di otakku adalah “Kalau marah jangan berjama’ah”…. Jadi kalau marah ada gilirannya, tidak boleh memotong perkataan lawan yang memberi sinyal tegangan tinggi duluan, dengan kata lain tunggu dulu sampai lawan kita puas ngomong, baru dech…… Kalau lawan kita mau motong omongan kita, ucapkan “STOP, sekarang giliran saya!”….. hehe…. Saya bayangkan, kalau saya marah lalu ngomong ini, pasti ga bakalan bisa nerusin marah, sebaliknya pasti saya akan tertawa….. hehe….

Yang paling penting adalah “Jangan marah melebihi 1 waktu sholat”, hal ini berkaitan dengan perkataan kita kepada Allah pada setiap tahiyyat, yaitu : "Assalaa-mu ‘alaynaa wa ‘alaa ‘ibaadil-ahissholiihiin" (Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba
hambamu yg sholeh ….)….. So, kalau ga pengen dibilang pembo-ong sama Allah, habis salam jangan cemberut lagi dech….

Maka ketika aku marah atau ngambek, aku selalu mengingat artikel kirimannya ini. Setelah pertengkaran itu selesai, maka dari mulut ini hanya akan keluar kata “maaf” dan “cinta” saja, maka sebuah rasa rindu akan semakin bertambah dari sebelum bertengkar. Jadi pertengkaran itu emang ibarat garam dalam sayur, menambah rasa semakin siiip…..aja….. Hehe…..

Bookmark and Share

My New Life

August 5th, 2007 by kumauyangkumau

Bismillahirrohmanirrohim…..

Ya Allah,

Rabb penguasa dan pengatur alam semesta…

Pada 25 Juli yang lalu, telah Kau pilihkan untukku

Seseorang terbaik yang menjadi teman hidupku

Seorang suami, yang mencintaiku apa adanya

Seorang suami, yang menjadi al-qowwam ku

Jadikanlah cinta kami sebagai kobaran semangat

Yang akan satukan kami dan sebuah perjuangan

Menegakkan kebenaran-Mu atas segala

Larutkan segala lara dan kesedihan dalam suka

Namun jangan larutkan kami dalam suka

Maka jadikan kami suami-istri yang selalu mengingat-Mu

Dalam keadaan bagaimana pun kami

Ya Allah yang Maha Sempurna,

Aku sadar dia memang tak sempurna

Pun demikian halnya diriku

Maka, jadikan kami saling melengkapi

Saling menutup kekurangan diri kami

Sehingga harmonis jalan kami berdua

Dalam cinta dan kasih sayang

Duuh… Rabb, pemilik cinta abadi,

Jika Kau perkenankan aku memohon

Sucikan cinta kami dalam perjuangan tuk tegakkan Syariah-Mu

Kuatkan kami meski banyak aral yang menghadang

Dan pertemukan lagi kami berdua dalam jannah-Mu

Amin…..

To: Suamiku tercinta, “te wo tsunaide, futari de gambarou! LUV U”

Bookmark and Share